Fatamedia Publisher

Ta’aruf = Semi Pacaran(?)

Posted on: September 3, 2008

Terkadang, dengan niat awal untuk ta’aruf, sebagian pria terjebak dalam aksi-aksi yang menjurus ke bentuk pacaran yang jelas-jelas dilarang dalam Islam. Pertama diawali dengan bertemu muka, dan mengobrol seadanya, dengan ditemani mahram. Lalu pertemuan itu diulang hingga beberapa kali, dengan alasan untuk semakin mengenal pasangannya. Lalu kemudian berlanjut dengan pertemuan-pertemuan tanpa ditemani mahram. Itu pun awalnya, hanya memperbincangkan hal-hal yang serius, yang betul-betul penting. Namun kemudian mereka ngobrol betulan. Memang, masih dengan tetap mengenakan hijab, tapi obrolan sudah tidak terkontrol, dan terjadilah saling memandang yang diharamkan itu. Dan sudah pasti, terjadi juga berdua-duaan yang juga tak dibenarkan dalam Islam. Semua itu terjadi secara mengalir begitu saja. Mereka tidak berniat pacaran, tapi akhirnya terjebak juga dalam simbol-simbolnya. Itulah maka saya suka menyebutnya sebagai ‘semi pacaran’.

Hal-hal yang terjadi di luar kesadaran, biasanya relatif terkesan natural, sehingga kesan mengalirnya lebih jelas, dan membuat orang lupa memikirkan berbagai hal. Tapi sudah seharusnya setiap muslim dan muslimah tetap ingat bahwa ta’aruf adalah proses menuju pernikahan. Sementara pernikahan itu sendiri adalah lembaga yang suci. Setiap hal yang suci harus dimulai dari kesucian. Kalau saat memulainya saja seseorang sudah berani melanggar aturan-aturan Allah, sudah menodai makna menikah menjadi bagian dari aktivitas maksiat, maka bisalah ditebak bagaimana rumah tangga yang tercipta dari gaya berta’aruf seperti itu.

“Sesungguhnya Allah menyukai hal-hal yang luhur dan mulia, serta membenci hal-hal yang rendah dan hina.” (Dirwiayatkan oleh Ath-Thobraanie, dinyatakan shohih oleh Al-Albaani dalam Shohiehu ‘l-Jaami’ dengan nomor 1890. Arti ungkapan, “..hal-hal yang luhur dan mulia…” adalah akhlak yang disyariatkan serta karakter yang terbentuk oleh ajaran agama.)

Mata kita mungkin saja digelapkan oleh gemerlap dunia, keindahan syahwat, atau hiburan nafsu. Tapi persoalannya, kita masih punya iman. Nurani kita amat mengetahui adanya kecenderungan nafsu yang mulai merambati jiwa kita. Naluri jahat bisa saja membungkus dosa dan maksiat dengan jubah kebenaran, menutupi kekeliruan dan kesalahan dengan selimut syariat yang Maha Bijaksana. Tapi fitrah dan nurani yang sehat, yang masih berisi iman, selalu saja mengetahui tipu daya itu. Hanya persoalannya, kita mengabaikannya atau tidak.

Yang sering terjadi, sebagian kita mengabaikan begitu saja peringatan hati nurani tersebut. Kita sudah mengetahui batasan yang ada, tapi sengaja kita tabrak. Kita sudah tahu adab dan etika dalam berta’aruf, etika dan aturan Islam terhadap lawan jenis yang bukan mahram, yang baru saja hendak kita ajak berkenalan sebagai calon pasangan kita, tapi kemudian kita abaikan semua etika tersebut.

Bagi kalangan muda mudi, mengobrol dengan lawan jenis memang seringkali menggoda. Oh ya, ternyata bukan hanya muda-mudi saja. Sebagian kalangan yang sudah cukup berumur tapi terlambat menikah, atau bisa jadi orang yang sudah beristri dan ingin mengenal wanita lain sebagai calon keduanya, ternyata juga sering tergoda untuk menikmati obrolan dengan wanita bukan mahramnya tersebut.

Maksud hati hanya ingin mengenal lebih jauh, justru mereka terjebak untuk bermaksiat lebih jauh. Tawaran maksiat itu terlalu indah untuk tidak dinikmati, terutama bila hati sudah tertembus panah iblis. Yah, berbagai alasan bisa saja digulirkan untuk setidaknya mengaburkan kesan-kesan dosa pada aksi-aksi tersebut. Seolah-olah segala aksi maksiat itu akan begitu saja terabaikan, selama niat dan tujuannya adalah baik, selama keinginannya adalah menikah dengan cara yang disyariatkan, dengan wanita yang dianggap ‘shalihah’. Bukankah itu yang disebut Al-Ghaayatu tubarrirul wasielah, ‘tujuan yang baik itu bisa menghalalkan segala cara,’ yang notabene adalah motto kalangan modernis dan sekuler?

Saya yakin mereka tidak berniat seperti itu. Ini hanya soal begitu mudahnya seseorang itu tergoda bermaksiat, ketika tawaran-tawaran maksiat itu begitu memikat hati, apalagi kalau sudah soal hubungan dengan lawan jenis. Tapi akan menjadi sangat ironis ketika itu terjadi dalam penerapan sebuah kebiasaan yang dianggap paling sesuai dengan panduan syariat. Sungguh merupakan kenyataan yang ironis, jika itu terjadi, saat kita sedang berhadapan dengan budaya-budaya multidimensional, gaya hidup yang sudah terkotori oleh pemikiran kaum kafir, dan kita datang dengan alternatif budaya Islam, yang salah satunya diwakili oleh ta’aruf. Saya hanya kembali menegaskan, jangan biarkan kebiasaan baik ini akhirnya ternoda oleh aplikasi yang kebablasan itu.

Iklan

13 Tanggapan to "Ta’aruf = Semi Pacaran(?)"

Yahhhhh…………….

Subhanallah, Islam memang agama yang indah, tidak hanya mengatur masalah ibadah sholat, zakat, haji, puasa dan lain-lainnya, tetapi juga mengatur masalah hubungan lawan jenis yang pastinya untuk keselamatan mereka.

Pacaran untuk masa sekarang terasa biasa dilakukan oleh para remaja bahkan orang dewasa baik itu muslim maupun non muslim, alasan utama mereka biasanya untuk lebih mengenal pasangan yang nantinya menjadi calon suami/istri, tapi ternyata ada niatan lain dibalik kegiatan pacaran itu yaitu zina, dengan pegangan tangan, saling memeluk, sampai menjurus ke zina yang sebenarnya atas nama cinta yg sebetulnya itu adalah nafsu.

Namun Islam melarang dengan tegas kalau tidak ada kamus kata pacaran di Islam, yang ada adalah ta’aruf dengan syarat-syarat sesuai syariat Islam, namun ternyata ta’aruf inipun hanya menjadi istilah Islami yang akhirnya populer dengan ‘Pacaran Islami’ tetapi tetap mengumbar nafsu di dalamnya.

Memang ironis, aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala diutak-atik oleh kepintaran manusia yang akhirnya menjadi ternoda dengan niat yang tidak ikhlas, nafsu, sehingga bukan rahmat yang diterimanya melainkan akibat yang sungguh mensengsarakan.

Na’udzubillah, marilah kita kaum muslim/muslimah kembali ke syariat Islam sebenarnya sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu memberikan petunjuk yg lurus, rahmat dan hidayahNya. Amin

Hal itu memang harus diketahui, karena setan terus berusaha menjerumuskan manusia. Smoga saya tidak terjerumus dalam hal tersebut.

wah jangan sampai terjerumus donk, tapi kita juga musti kenal gimana mw nikah kalo gak kenal

assalamualaikum
menurut saya sudah bagus, tetapi bagaimana dong agar kita tidak samapi sejauh itu ? kita mingkin pengennya taaruf dengan singkat, padat, n jelas bagaimana dengan orang lain yang belum tahu tentang acara PROSESI TAARUF (ortu).
assalamualaikum

Wah..untuk zaman sekarang, kenapa ya berat banget untuk nerapin petunjuk Rasulullah mngenai ta’aruf..
Banyak banget contoh2 yg gak bener yg udah d tunjukin sama musuh2 Islam.
Hanya orang-orang yg bertakwa yg selalu teguh dan patuh pada perintah Allah..
Semoga kita menjadi bagian orang-orang yang bertakwa..

kadang aq mikir knapa aq dilahirkan jaman sekarang,,,,.mnurut saya jaman skrang banyak kemungkaran…,yah salah satunya soal yang satu nh…( sex bebas di mana2,)…pokoknya semberaut lah …..

ta’aruf memang lebih baik daripada pacaran, tapi kadang seseorang itu merasa tidak puas dengan cuma adanya ta’aruf karena dari kedua belah pihak saling tidak mengenal. Dan terkadang adanya tidak kepercayaan di satu sisi. Makanya anak muda sekarang ini memilih untuk berhubungan (pacaran) dulu sekitar 1 tahun atau bahkan lebih untuk bisa mengenal dulu pasangannya.
tapi di satu sisi saya juga berpendapat ta’aruf dilakukan oleh orang-orang yang dapat dipercaya misalnya orang tua, ustadz atau teman yang mengerti baik dan buruknya pasangan kita. jadi kita tidak usah pacaran bukan?
Islam memang baik ya……karena agama Islam selalu menjaga norma-norma kesusilaan asalkan manusia itu sendiri bisa menjaga agama tersebut. Karena agama Islam adalah suci seperti halnya pernikahan yang dinyatakan dalam buku ini.

Sebenarnya yang perlu di garis bawahi adalah pentingnya pengetahuan seputar ta’aruf tersebut, seseorang yang ingin melaksanakan ta’aruf itu harus belajar dulu tentang adab, cara dan hal-hal yang di bolehkan dalam berta’aruf atau batasan dan larangannya, sehingga Insya Allah tidak akan terjadi seperti tersebut didalam bacaan tadi karena orang yang berta’aruf dan yang di ta’aruf sama-sama memiliki ilmu tentang ta’aruf tersebut.

Memang budaya pacaran di Indonesia adalah sesuatu yang sudah dianggap sebagai hal yang biasa, bahkan ada di antara mereka yang mewajibkan anak-anak remaja mereka untuk mencari pasangan dengan cara berpacaran. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan aktifitas tersebut.

Islam hanya mengajarkan ta’aruf kemudian jika memang sudah pantas atau cocok dengan seseorang yang diajak ta’aruf baru kemudian diperintahkan untuk segera menikah. Dengan seperti ini insya Allah kita akan terselamatkan dari budaya yang digembar-gemborkan oleh musuh-musuh Islam dari berbagai penjuru dunia. Yang mereka hanya mengedepankan kesenangan dunia dibanding akherat. Padahal sudah jelas dan gamblang sebagaimana yang tercantum di dalam Kitab umat Muslim sedunia, al-Quran : dikatakan bahwa Kampung akhirat itu lebih baik dan lebih kekal dari pada kehidupan dunia.
Wallahu a’lam.

Dunia tiada bernilai sama sekali jika dibandingkan dengan akhirat, Rasulullah bersama para sahabatnya suatu ketika berjalan melewati suatu pasar, kemudian di tengah perjalanan, mereka mendapati bangkai hewan, lalu diambilah bangkai tersebut oleh Nabi, ditawarkannya bangkai itu kepada para sahabat. “Siapa yang ingin membeli bangkai ini dengan sekian dirham?” Tanya Nabi kepada para sahabat. Sudah tentu mereka terkejut atas apa yang diperbuat nabi itu? Seraya mengatakan, wahai nabi mengapa anda ingin menjual bangkai tersebut dengan sekian dirham, padahal jika harganya dikurangi pun tidak ada yang ingin membelinya.”

Ya, memang begitu. Maka ketahuilah bahwa nilai dunia sama dengan bangkai hewan tadi.

Itulah nilai dunia…! Jadikan lah dunia itu samudera yang dengan bahtera amal sholeh lah kita akan selamat sampai tujuan kita di kampung akhirat.

Pacaran? jangan sampe lagi y….

Telah dijadikan indah pandangan manusia terhadap apa-apa yang disukainya………Itulah fitrah, namun Islam mengajarkan kita etika bergaul yang tetap menjaga kehormatan diri sebagai khalifah fil ardhi. Dalam Islam, hal yang paling utama yang harus dilihat dari seorang pria/wanita yang nantinya menjadi pasangan kita.Adalah agamanya, sejauh mana dia mengenal agamanya.

karena kita harus paham betul, “boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu (disisi Allah), dan boleh jadi pula kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu (disisi Allah)”

Jadi, yang terbaik adalah memperhalus akhlak, memperlurus niat, lalu bertawakallah. Percayakan semua pada Allah yang telah berjanji, bahwa laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik.

Maaf bila ada yang salah, jika ada yang ingin silaturahmi saya persilahkan.

Wassalam.

Assalamualaikum..
Subhanallah, islam memang agama yang indah, dalam hal cinta pun sudah ada aturannya, ketika dua pasang manusia yang ingin membangun keluarga yang bekah, sakinah, mawadah warahmah, memang butuh ta’aruf dulu. Cinta memang hal yang fitrah. Tapi sayang sekali muda-mudi di akhir zaman sering mengartikannya dengan pacaran. saling mengenal tidak harus dengan pacaran, mungkin salah satunya dengan mengetahui pribadi orang tersebut dari sahabatnya, kerabatnya ataupun dari gurunya.Perlunya digaris bawahi bahwa islam tidak mengajarkan kita pacaran, karena ta’aruf tidak boleh dengan pacaran. Semaga kita termasuk orang-orang yang tetap mendaoatkan taufiq dan hidayah NYA. Amin..
Wassalamualaikum..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: