Fatamedia Publisher

Akhirnya Cintaku Berlabuh Karena Allah

Posted on: September 3, 2008

Awalnya, aku bertemu dengannya di sebuah acara yang diselenggarakan di rumahku sendiri. Gadis itu sangat berbeda dengan cewek-cewek lain yang sibuk berbicara dengan laki-laki dan berpasang-pasangan. Sedangkan dia dengan pakaian muslimah rapi yang dikenakannya membantu mamaku menyiapkan hidangan dan segala kebutuhan dalam acara tersebut. Sesekali gadis itu bermain di taman bersama anak-anak kecil yang lucu, kulihat betapa lembutnya dia dengan senyuman manis kepada anak-anak.

Dari sikapnya itu aku tertarik untuk mengenalnya. Akhirnya dengan pede-nya kuberanikan diri untuk
mendekatinya dan hendak berkenalan dengannya. Namun, kenyataannya dia menolak bersalaman denganku, dan cuma mengatakan, “Maaf…” dan berlalu begitu saja meninggalkanku.

Betapa malunya aku terhadap teman-teman yang berada di sekitarku. “Ini cewek kok jual mahal banget! Padahal begitu banyak cewek yang justru berlomba-lomba mau jadi pacarku. Dia, mau kenalan saja tidak mau!” ujarku.

Dari kejadian itu aku menjadi penasaran dengan gadis tersebut. Lalu aku mencari tahu tentangnya. Ternyata dia adalah anak tunggal sahabat rekan bisnis papa. Setiap ada acara pertemuan di rumah gadis itu, aku selalu ikut bersama papa.

Gadis itu bernama Nina, kuliah di Fakultas Kedokteran dan dia anak yang tidak suka berpesta, berfoya-foya, dan keluyuran seperti cewek kebanyakan di kalangan kami. Aku pun jarang melihatnya jika aku pergi ke rumahnya; dengan berbagai alasan yang kudengar dari pembantunya: sakitlah, lagi mengerjakan tugas, atau kecapaian. Pokoknya, dia tidak pernah mau keluar.

Hingga suatu hari aku dan papa sedang bertamu ke rumahnya. Pada saat itu, Nina baru saja pulang dengan busana muslimahnya yang rapi, terlihat turun dari mobil, namun belum jauh melangkah dia pun terjatuh pingsan dan mukanya terlihat sangat pucat. Kami yang berada di ruang tamu bergegas keluar dan papanya pun menggendong ke kamar serta meminta tolong kami untuk menghubungi dokter. Dari hasil pemeriksaan dokter, Nina harus dirawat di rumah sakit.

Keesokan harinya, aku datang ke rumah sakit bermaksud untuk menjenguknya. Betapa kagetnya aku ketika kutahu Nina terkena leukemia (kanker darah). Aku bertanya, “Kenapa gadis selembut dan sesopan dia harus mengalami hal itu?”

Perasaan kesalku padanya kini berubah menjadi kasihan dan khawatir. Setiap usai kuliah, kusempatkan untuk datang menjenguknya. Aku mendapatinya sering menangis sendirian. Entah itu karena tidak ada yang menjaganya atau karena penyakit yang diderita.

Beberapa hari di rumah sakit, Nina memintaku keluar setiap kali aku masuk. Aku pun mendatanginya di rumah, tapi dia tidak pernah mau keluar menemuiku dan hanya mengurung diri di dalam kamar. Aku tidak menyerah begitu saja, kucoba menelpon Nina dan berharap dia mau bicara denganku. Namun, dia tetap tidak mau mengangkat telpon dariku, lalu kukirimkan SMS padanya agar dia mau menjadi pacarku, tetapi tidak ada balasan malah HP-nya dinonaktifkan semalaman.

Keesokan harinya aku nekat datang ke rumahnya untuk meminta maaf atas kelancanganku. Ternyata ia akan berangkat ke Makassar, ke kampung orang tuanya. Karena orang tuanya tak dapat mengantarnya, aku pun menawarkan diri untuk mengantarnya, tapi Nina lebih memilih naik taksi dengan alasan tidak mau merepotkan orang lain. Sebelum naik ke mobil, dia menitipkan kertas untukku kepada mamanya.

Alangkah hancur hatiku ketika membaca sebait kalimat yang berbunyi, “Maaf saat ini aku hanya ingin berkonsentrasi kuliah.” Hatiku remuk dan aku pulang dengan perasaan kesal sekali. Ini pertama kalinya aku ingin pacaran, tapi ditolak. Sebenarnya, aku tidak begitu suka dengan hubungan seperti pacaran itu karena begitu banyak dampak negatifnya, sampai ada yang rela bunuh diri karena ditinggalkan kekasihnya -naudzubillahi min dzalik.

Namun entah mengapa ketika aku melihat Nina hatiku pun tergoda untuk menjalin hubungan itu.

Sejak perpisahan itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya sampai gelar sarjana aku raih. Lalu aku pun bekerja di perusahaan milik keluargaku sebagai satu-satunya ahli waris. Melihat ketekunanku dalam bekerja, papa Nina menyukaiku hingga hubungan kami menjadi akrab dan kuutarakanlah maksudku bahwa aku menyukai Nina, anaknya, dan ternyata papa Nina setuju untuk menjadikanku sebagai menantunya.

24 Oktober 2006, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, aku dan orang tuaku bersilaturrahmi ke rumah keluarga Nina dengan maksud untuk membicarakan perjodohan antara aku dan Nina. Tapi pada saat itu Nina baru dirawat di rumah sakit sejak bulan Ramadhan. Saat kutemui, Nina terlihat sangat pucat, lemah, dan senyumannya seakan menghilang dari bibirnya. Hari itu orang tua kami resmi menjodohkan kami. Bahkan aku diminta untuk menjaganya karena orang tuanya akan berangkat ke luar negeri. Tetapi Nina tidak pernah mau meladeniku.

Suatu hari aku mendapati Nina terlihat kesakitan, terlihat darah keluar dari hidung dan mulutnya. Aku bermaksud untuk membantu mengusap darah dan keringat yang ada di wajahnya, tetapi secara spontan dia menamparku pada saat aku menyentuh wajahnya. Betapa kaget diriku dibuatnya, aku tidak menyangka sama sekali Nina akan menamparku. Sungguh betapa istiqomahnya dia dalam menjaga kehormatan untuk tidak disentuh oleh laki-laki yang bukan muhrimnya. Saat itu aku belum mengetahui tentang masalah ini dalam agama.

Kejadian tersebut secara tak sengaja terlihat mama Nina maka Nina pun dimarahi habis-habisan hingga sebuah tamparan mendarat di pipinya. Kulihat Nina segera melepas infusnya dan berlari menuju kamar mandi. Nina pun mengurung diri di kamar mandi tersebut. Dengan terpaksa kami mendobrak pintu kamar mandi dan kami dapati Nina tergeletak di lantai tak sadarkan diri karena terlalu banyak darah yang keluar.

Setelah sadar, aku berusaha bicara dan meminta maaf kepadanya atas kejadian tadi, namun Nina terus -terusan menangis. Aku pun bertambah bingung, apa yang mesti aku lakukan untuk menenangkannya. Tanpa pikir panjang aku memeluknya, tapi Nina malah mendorongku dengan keras dan berlari keluar dari kamar menuju taman. Ketika kudekati Nina berteriak hingga menjadikan orang-orang memukuliku karena menyangka aku mengganggu Nina. Karena itulah, Nina semalaman tidur di taman dan aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Setelah waktu subuh menjelang kulihat Nina beranjak untuk melaksanakan
shalat shubuh di masjid, aku pun turut shalat. Namun setelah shalat, tiba-tiba Nina menghilang entah ke mana. Aku mencarinya berkeliling rumah sakit tersebut. Dan lama berselang kulihat banyak kerumunan orang dan ternyata Nina sudah tak sadarkan diri tergeletak dengan HP berada di sampingnya, sepertinya dia barusan telah berbicara dengan seseorang. Keadaan Nina saat itu sangat kritis sehingga pernafasannya harus dibantu dengan oksigen. Kata dokter, paru-paru Nina basah yang mungkin diakibatkan semalaman tidur di taman.

Nina tak kunjung juga sadar. Dengan perasaan khawatir dan bingung aku berdoa dengan menatap wajahnya yang pucat pasi…….

Tiba-tiba ada sebuah SMS yang masuk ke HP Nina, tanpa sadar aku pun membaca dan membalas SMS tersebut. Aku juga membuka beberapa SMS yang masuk ke HP-nya dan aku sangat terharu dengan isinya, ternyata banyak sekali orang yang menyayanginya. Di antaranya adalah orang yang bernama Ukhti. Dulu sebelum aku mengetahui Ukhti adalah panggilah untuk saudari perempuan, aku sempat cemburu dibuatnya. Aku mengira Ukhti itu adalah pacar Nina yang menjadi alasan dia menolakku.

Setelah Nina tersadar dari pingsannya, aku menunjukkan SMS yang dikirimkan saudari-saudarinya dandia sangat marah ketika tahu aku sudah membaca dan membalas SMS dari saudari-saudarinya. Dia pun akhirnya melarangku untuk memegang HP-nya apalagi mengangkat atau menghubungi saudari-saudarinya.

Namun, tetap saja aku sering ber-SMS-an dengan saudari-saudarinya untuk mengetahui kenapa sikap Nina begini dan begitu. Dari sinilah aku mendapat sebuah jawaban bahwa Nina tidak mau bersentuhan apalagi berduaan denganku karena aku bukan mahramnya dan Nina menolak untuk berpacaran serta bertunangan denganku karena di dalam Islam tidak ada hal-hal seperti itu dan hal itu merupakan kebiasaan orang-orang non Muslim.

Aku tahu juga Nina mencari seorang ikhwan yang mencintai karena Allah bukan atas dasar hawa nafsu.  Akhirnya aku tahu akan sikap Nina selama ini semata-mata dia hanya ingin menjalankan syariat Islam secara benar. Hari berlalu dan aku terus belajar sedikit-demi sedikit tentang Islam dari Nina dan saudari-saudarinya, terutama dalam melaksanakan shalat lima waktu tepat pada waktunya. Saat itu aku merasakan ketenangan dan ketentraman selama menjalankannya dan menimbulkan perasaan rindu kepada Allah untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Niatku pun muncul untuk segera menikahi Nina agar tidak terjadi fitnah, namun kondisi Nina semakin memburuk. Dia selalu mengigau memanggil saudarisaudarinya yang dicintainya karena Allah…..

Melihat hal itu, aku membawanya ke kota Makassar, kampung mama kandung Nina untuk mempertemukannya dengan saudari-saudarinya, Qadarullah (atas kehendak Allah), aku tidak berhasil mempertemukan mereka. Yang ada, kondisi Nina semakin parah dan penyakitku juga tiba-tiba
kambuh sehingga aku pun harus dirawat di rumah sakit.

Orang tua Nina datang dan membawanya kembali ke kota Makassar tanpa sepengetahuanku karena pada saat itu aku juga diopname. Di Makassar, Nina diawasi dengan ketat oleh papanya, karena papa Nina kurang suka dengan akhwat, apalagi yang bercadar.

Rumah sakit dan rumah yang ditempati Nina dirahasiakan. Dan Nina pun tak tahu di manakah Ia berada. Karena kondisinya masih lemah, Nina pun tak bisa berbuat apa-apa, bahkan ia kadang dibius, apalagi ketika akan dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang satunya agar tidak tahu di mana keberadaannya, karena papanya tidak ingin ada akhwat yang menjenguk Nina. Sampai-sampai HP-nya pun diambil dari Nina. Namun, karena Nina masih mempunyai HP yang dia sembunyikan dari papanya, sehingga beberapa kali Nina berusaha kabur untuk menemui saudari-saudarinya, akhirnya Nina dikurung di dalam kamar.

Mendengar hal itu, aku langsung menyusul Nina ke Makassar dan aku sempat bicara dengannya dari balik
pintu. Nina menyuruhku untuk menemui seorang ustadz di sebuah masjid di kota itu. Dari pertemuanku dengan ustadz tersebut aku pun diajak ta’lim beberapa hari dan aku menginap di sana.

Papa Nina menyangka Nina telah mengusirku sehingga ia pun dimarahi. Setibanya di rumah, aku jelaskan duduk perkaranya kepada papa Nina, bahwa ia tidak bersalah dan aku mengatakan agar pernikahan kami dipercepat.

Hari Kamis, 24 November 2006. Kami melangsungkan pernikahan dengan sangat sederhana. Acara tersebut cuma dihadiri oleh orangtua kami beserta dua orang rekanan papa. Setelah akad nikah aku langsung mengantar ustadz sekalian shalat dhuhur. Betapa senangnya hatiku, akhirnya aku bisa merasakan cinta yang tulus karena Allah. Semoga kami bisa membentuk keluarga sakinah mawaddah, wa rahmah dan senantiasa dalam ketaatan kepada Allah…
Itulah doaku saat itu.

Sepulang dari mengantar ustadz, perasaan bahagia itu seakan buyar mendapati Nina yang baru saja menjadi istriku tergeletak di lantai, dari hidung dan mulutnya kembali berlumuran darah. Dan tangannya terlihat ada goresan.

Kami langsung membawanya ke rumah sakit, di perjalanan, kondisi Nina terlihat sangat lemah. Terdengar suaranya memanggilku dan berkata agar aku harus tetap di jalan yang diridhai-Nya-sambil memegang erat tanganku karena kesakitan. Baru pertama kali ia memegang tanganku dengan tulus, air mataku tak tertahankan melihat keadaan Nina yang terus berdzikir sambil menangis…. Dia juga selalu menanyakan saudari-saudarinya di mana?

Setibanya di rumah sakit, aku bertanya-tanya kenapa tangan Nina tergores. Aku pun menulis SMS kepada saudari-saudari Nina. Ternyata, tangan Nina tergores ketika hendak menemui saudari-saudarinya dengan keluar dari kamar. Karena pintu kamar terkunci, Nina ingin keluar melalui jendela sehingga menyebabkan tangannya tergores.

Nina tak kunjung sadar hingga larut malam, aku pun tertidur dan tidak menyadari kalau Nina bangkit dari tempat tidurnya. Dia ingin sekali menemui saudari-saudarinya dan dia tidak menyadari kalau hari telah larut malam. Dia cuma berkata, “Pengin ketemu saudariku karena sudah tak ada waktu lagi.” Berhubung Nina masih lemah, dia pun jatuh pingsan setelah beberapa saat melangkah.

Aku benar-benar kaget dan bingung mau memanggil dokter tapi tidak ada yang menemani Nina. Akhirnya, aku menghubungi salah seorang saudarinya untuk menemani. Setelah aku dan dokter tiba, Nina sudah tidak bernafas dan bergerak lagi. Pertahananku runtuh dan hancurlah harapanku melihat Nina tidak lagi berdaya…

Dokter menyuruhku keluar. Pada saat itu kukira Nina telah tiada, makanya aku segera menulis SMS kepada saudari Nina untuk memberitahu bahwa Nina telah tiada.

Namun, begitu dokter keluar, masya Allah! Denyut jantung Nina kembali berdetak dan ia dinyatakan koma. Aku hendak memberi kabar kepada saudari Nina tapi baterai HP-ku habis dan tiba-tiba penyakitku pun kambuh lagi sehingga aku harus diinfus juga…

Bagaimana kelanjutan kisah ini? Simak di Seindah Cinta Ketika Berlabuh

Iklan

10 Tanggapan to "Akhirnya Cintaku Berlabuh Karena Allah"

Menarik sekali membaca resensi buku ini.Saya terharu dengan tokoh Nina,seorang penderita leukimia yang mencintai Allah swt saat dia semakin tidak berdaya menghadapi sakitnya.Dia juga berprinsip menjalankan kewajibannya sebagai muslimah yang baik.Ketika akhirnya dia menikah dan penyakitnya tidak kunjung membaik,dia berusaha tetap berhubungan dengan saudari-saudarinya.Islam mengajarkan ukhuwah islamiyah sesama saudar muslim,hal tersebut sangat diyakini Nina.Cerita ini diawali dari kekaguman seorang pemuda yang memandang seorang gadis bernama Nina yang penampilannya sangat santun,dan dia berusaha untuk mengenalnya.Ketika ia mengetahui bahwa Nina menderita leukimia,ia berusaha memberikan dukungan kepada Nina yang akhirnya menjadi istrinya.Bagaimana kelanjutan cerita ini?apakah akhirnya Nina dapat kembalai sehat?apakah Allah berkehendak lain?hmmm..penasaran bukan?

masih adakah laki-laki yang benar-benar tulus seperti itu……………..

subhanallah….
kisah yang mengharu biru,,,,,,,,

Subhanallah…. sebuah kisah yang InsyaAllah dapat menjadi inspirasi bagi pembacanya. Bagaimana kekuatan iman dan ke istiqomah-an Nina di tengah ujian yang diberikan Allah dengan penyakit yang dideritanya memberikan gambaran bagaimana menjadi seorang muslimah yang baik.

Subhanallah…sungguh teguhnya pendirian Nina, walau ia harus dimarahi kedua orang tuanya.
Betapa teguhnya ia menjaga kesucian dirinya dari sentuhan laki2 yg bukan mahramnya.

Dari cerita trsebut, dpt kita buktikan sabda Rasulullah, “…laki2 pezina akan mendapatkan wanita pezina, begitupula sebaliknya, dan laki2 yg baik akan mendapatkan wanita yang baik pula…”
Begitu inginnya si pemeran utama memperisitri Nina, sehingga ia berusaha untuk menuntut ilmu agama lbh baik lg, agar ia bisa memperistri Nina.

Dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa begitu teguhnya seseorang dalam menjaga kesuciannya,dan begitu tegarnya dalam menghadapi penyakit yang ia alami..
Semoga masih banyak wanita d dunia ini yg menjaga kesuciannya..
Karena, wanita adalah perhiasan dunia…

Cerita cinta yang baik karena dilandaskan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga niat baik team penulis buku ini dapat terimplementasi bagi para pembaca. Karena begitu pentingnya perasaan ini di arahkan. Agar segala sesuatunya dapat kita jadikan sebagai Ibadah kepada Rabb yang menciptakan segalanya termasuk rasa cinta dan yang paling utama untuk dicintai.

benar-benar hebat cerita ini, sampai-sampai aku penasaran ingin meneruskannya…….. jarang sekali aku menemukan keistiqomahan seorang wanita dalam menjaga kehormatannya untuk menjalankan syariat Islam yang utuh. dan akhirnya bisa mendapat cinta sejati dari seorang laki-laki yang benar-benar tulus mencintai dia karena Allah.
wah……..ingin sekali aku bisa mengalami cinta yang seperti itu

masya ALLAH
sungguh indah, kisah cinta yang dilandasi keimanan dan cinta karena ALLAH
kuingin mendapatkan seperti apa yang mereka alami
YAA ALLAH berikanlah aku pendamping hidup seperti wanita ini,,
saya yakin, wanita yang seperti inilah yang jadi incaran setiap laki-laki yang beriman, toh hanya dengan sikapnya saja seseorang menjadi tertarik

tidak ada komentar selain
cerita yang sangat indah, mengharukan
cinta karena ALLAH
siapa lagi yang bisa menandinginya
CINTA Kepada ALLAH
cinta yang tertinggi

masya ALLAH
ALLAHU AKBAR

Afwan.. saya hanya ingin berkomentar yah..
Akhirnya Cintaku Berlabuh Karena Allah
Pertama kali saya hanya baca judulnya, sekilas terbesit secarik persepsi dalam benak saya bahwa cerita tersebut seperti kisah-kisah yang pernah ada, klasik. Tokoh utama menjadi figure luar biasa, sebagai tauladan atau idola, bagaimana meraih hatinya. Kisah tersebut sederhana namun kaya akan makna. Ada hal yang membuat kita [red:pembaca] menjadi larut dalam cerita yang mengharu biru. Tokoh ‘aku’ yang tertarik dengan Nina, seorang gadis yang berusaha menjaga hijab dan kehormatannya sebagai wanita muslimah.
Lagi-lagi kisah dengan goresan cinta menghiasi, bagaimana tokoh ‘aku’ berpetualang demi cintanya. Bagaimana tokoh ‘Nina’ berjuang dengan leukimia yang dideritanya dan bagaimana ia membawa perubahan bagi orang-orang disekitarnya.
Paragraf demi paragraph mengalir. Sehingga saya pun tertarik ingin tahu kelanjutannya namun bukan hanya pada akhir kisah atau ending-nya. Melainkan bagaimana penulis menggoreskan kalimat, tiap paragraf dalam kisah tersebut hingga disajikan menarik dengan bahasa yang memikat.
Ada hal yang membuat saya kurang ‘sreg’, unsur kekerasan tetap saja ada. “Aku bermaksud untuk membantu mengusap darah dan keringat yang ada di wajahnya, tetapi secara spontan dia menamparku pada saat aku menyentuh wajahnya”. Dari kutipan tersebut, saya jadi bertanya-tanya… Bukankah tamparan itu selain wujud kekerasan juga malah menunjukkan bahwa hijab tidak sepenuhnya terjaga?.[maaf..].. kulit saling bersentuhan antara tokoh ‘aku’ dan Nina?. Bukankah banyak cara lain yang lebih halus, misal ; menutup wajah dengan selimut atau mengambil bantal guling atau kepala dipalingkan pun bisa.
Dari buku ini, mudah-mudahan bukan hanya penghakiman moral [ baik-jahat, benci-suka] dan kisah cinta yang diangkat pun dapat dijadikan sebagai komoditas yang dapat membangun generasi muda kita sesuai syariat Islam dan bukan malah ‘menyesatkan’.
Dalam buku “Akhirnya Cintaku Berlabuh Karena Allah” ini nampaknya kaya akan hikmah, kisah yang menghanyutkan tapi juga menyadarkan kita dan kembali lagipada hakikat cinta yang menjadi tema pokok serta diulas dalam kejadian penuh perjuangan. Oleh karena, Hakikat cinta hakiki sebenarnya adalah sepenuh hati mencintai segala sesuatu karena Sang Ilahi. Luar biasa, bukan?!. [by; zitzeku]

Assalamualaikum. Kisahx bgus.
ni ksh nyata yg bnr2 tjadi yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: